~my word~

What can I do to get you there?
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Desember 2011

Bait bait hujan

Kamu seperti hujan. Yang datang menghapus bau-bau kematian, di hatiku yang telah gersang oleh kemarau. Padahal kamu pernah menciptakan mendung, di awan awan yang putih, di hamparan langit yang biru. Tapi secepatnya aku lupa. Sebab kamu segera menggantinya dengan hujan. Yang merontokkan segenap kerinduan.

Melihat hujan hari ini, aku teringat kamu. Kamu yang hadir dengan manis di setiap hujan. Menggenggam sebelah tanganku---menarikku ke arah hujan. Bermain dengan hujan. Dan ketika kita telah begitu basah, kamu membelai rambutku yang penuh hujan. Menggerainya, hingga tak menghalangi wajahku yang pernah kamu sebut sebagai karya seni terindah Tuhan.
“Nggi, tidak bawa payung?”
Aku menggeleng.
Ardi. Aku tahu, sudah sebulan ini dia memberikan perhatian lebih kepadaku. Mungkin sebentar lagi dia akan mengatakan cinta. Aku yakin itu. Tapi tidak mungkin kuterima, sebaik dan seperhatian apapun dirinya. Sebab hatiku telah kamu. Rinduku pun telah kamu.
“Nanti sakit lho, Nggi?” bujuknya sambil membuka payungnya yang berwarna biru muda bermotif bunga. Ciri khas laki-laki bertipe lembut, mudah terluka. Mungkin.
“Di, Anggi suka hujan.”
Ardi diam, menatapku penuh rasa keingintahuan.

Aku menjulurkan tangan kananku ke rintik-rintiknya, mencuri segenang hujan. “Lihat, hujan adalah kehidupan.”
Dia diam. Masih menatapku dengan sedikit heran. Lalu ia pun ikut mengulurkan tangannya ke arah hujan.
Aku tak pernah suka hujan,” diam sejenak sebelum ia melanjutkan, “kau tahu, Nggi? Dari kecil aku selalu dilarang main hujan-hujanan. Aku hanya bisa melihat teman-temanku bermain dengan riangnya dari balik jendela kamarku. Aku ingin… ingin sekali bisa bermain dengan hujan. Tapi aku tahu, aku tak boleh. Karena fisikku, Nggi… aku alergi hujan.”
 Aku menatapnya yang masih menatap ke arah hujan. Menyunggingkan senyuman yang lebih dari kerinduan.
“Sulfat.” Aku memecah keheningan.
“Maksudmu?”
“Sekarang aku juga tidak akan main hujan-hujanan lagi.”
“Karena aku?”
“Enak saja. GR kamu.”
“Lalu?”
“Sulfat. Bukannya sudah kukatakan tadi?”
***
Tentang kamu, yang pernah kulihat berdiri menunggu hujan reda di pintu gerbang sekolah. Kamu mengenakan kemeja berwarna abu abu dengan rambut acak-acakan, seperti tak disisir. Kamu memakai tas punggung yang juga berwarna abu abu, yang tampak penuh menggelembung. Tak tahu apa isinya. Sesekali kamu melirik tangan kananmu, melihat waktu di arlojimu. Ah aku jatuh cinta padamu, pada ekspresi wajahmu yang waktu itu seperti terburu-buru.
Aku tergoda untuk mendekatimu. Berdiri di sampingmu.
“Payung?”
Kamu menatapku sekilas. Lalu menggeleng.
“Anggi. Kamu?”
“Pring.” aku tertawa mendengar nama itu.
“Kenapa ketawa? Ada yang lucu?”
“Nggak…”
“Ah pasti karena namaku kan?”
Dan kamu diam. Diam yang begitu aku suka. Bisa kuhitung berapa kalimat yang kamu ucapkan di tiap kita bertemu. Seperti pertemuan pertama kita ini, kamu diam dan aku memayungimu. Kamu tidak menolak. Aneh. Padahal kita baru saling mengenal nama. Tetapi aku merasa begitu dekat kepadamu. Merasa seakan kamulah orang yang tepat untukku.
***
Kamu tidak begitu tampan. Ardi jelas jauh lebih tampan. Tapi garis mukamu begitu tegas. Begitu lugas. Kamu adalah tipe orang yang tahu dan paham apa yang harus dan boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Dan kamu seperti menemukan alasan, di pertemuan kita yang bahkan belum menginjak angka belasan, untuk mengatakan perasaanmu kepadaku.
Hari itu memang hujan.
“Momen yang sama, kan?” Aku kaget. Tidak biasanya kamu memulai pembicaraan. Belum aku menjawab, kamu sudah melanjutkan pertanyaanmu, “Payung?” Dan aku hanya bisa menatapmu. Kamu benar-benar aneh hari ini.
“Katakan saja apa maumu? Tidak biasanya kamu seperti ini.”
“Sudah kubilang kan? Momen yang sama.”
“Maksudmu?”
“Saat kita pertama kali bertemu.”
Kamu menatapku. Menatapku dengan pandangan yang di malam kesendirianku tidak dapat terhapus dari bayangan. Dan perkataanmu selanjutnya adalah sesuatu yang mungkin menjadi hal terindah dalam hidupku. Meski kamu tidak bertanya bagaimana perasaanku dan tidak memintaku untuk menjadi pacarmu. Tidak memintaku untuk selalu berada di sisimu. Tapi ya, kau dengan tegas mengucapkan itu, bahwa kamu suka aku. Cukup. Dan aku seperti tersihir atau terhipnotis oleh pernyataanmu itu. Tanpa bisa berkata-kata.
***
“Apa kamu suka sama orang lain, Nggi?” Ardi bertanya. Aku diam.
Bahasa terbaik adalah diam. Itu adalah ucapanmu. Aku tidak mengerti kenapa kamu lebih suka diam dan tersenyum. Sampai pembicaraan-pembicaraan kita seringkali semata lewat kertas atau SMS, padahal kita sedang duduk bersebelahan.
“Pring, bicaralah...”
“Ehmm, tidakkah ini romantis?”
“Old school...”
“Kamu mau aku cium?”
Giliranku yang terdiam. Kamu bilang ingin menciumku. Aku memejamkan mata. Beberapa detik kutunggu, kamu malah menjitak kepalaku.
“Nanti, kalau kita sudah menikah...” lanjutmu sambil tersenyum.
Tetapi, kamu tidak ada di depanku kini. Malah Ardi. Dia masih menatapku dengan tanda tanya. Lama-lama aku jadi kasihan padanya. Maksudku, tidak baik untuk terus membiarkan seseorang mencintai sementara hati sudah milik orang lain. Ya, meski, kebanyakan perempuan begitu. Menebar kail di dua ikan. Menunggu sampai mendapatkan ikan yang paling besar. Aku tentu berbeda. Jika sudah ada satu ikan, ya cukup satu saja. Menunggu terlalu lama beresiko sia-sia.
“Kalau iya, kenapa?” Aku malah balik bertanya.
“Apa dia juga menyukaimu?”
“Ya, katanya begitu, tapi...”
“Tapi?”
“Kenapa kamu mau tahu?”
“Karena aku suka kamu!” Ardi menjawab dengan tegas.
“Sudahlah, Di... aku minta maaf, aku sudah terlanjur menyukainya.”
“Siapa dia... kelas berapa?”
Tiba-tiba aku terdiam. Pringadi. Kelas berapa ya? Sekolahku memang besar dan luas. Satu angkatan saja terdiri dari 12 kelas dan masing-masing kelas bersiswa 45 orang. Aku tidak pernah bertanya dia kelas berapa. Aku memang jarang melihatnya. Bahkan pertemuan pertama kami di gerbang sekolah itu pun adalah memang pertama kali aku melihatnya.
“Nggi... kok diam?” tanya Ardi lagi.
“Pringadi, kamu kenal?”
Ardi mengerutkan keningnya. “Rasanya tidak ada nama seaneh itu di sekolah kita.”
***
Bisa kuhitung jari berapa kali aku bertemu denganmu. Pertama, di gerbang sekolah, dan hari itu hujan. Kedua, di depan ruang guru, sore-sore saat aku baru selesai ekskul, dan hari itu hujan. Ketiga, di kantin, saat aku membolos karena bosan, hari itu kamu menyatakan suka aku, dan hari itu juga hujan. Keempat, di belakang sekolah, saat aku membeli beberapa alat tulis, kamu menghampiriku dan mengirim SMS, berkata ingin menciumku. Sebelum akhirnya, aku sudah berbulan-bulan tidak melihatmu.
Aku ingat sekarang, aku belum pernah memberikan nomor handphoneku ke kamu.
***
“Tidak ada yang namanya Pringadi di sekolah ini.”
“Tidak mungkin.”
“Sudah kuselidiki, Nggi. Sudah kutanyakan ke administrasi.”
“Aku pernah bertemu dengannya. Aku pernah berSMSan dengannya. Aku pernah bertulis kata-kata dengannya. Kamu hanya tidak suka kalau aku menyukai orang lain, Di!”
“Aku cuma tidak suka kamu tersesat dalam rasa sukamu, Nggi.”
“Masa bodoh!”
“Aku peduli padamu. Apa kau bisa menunjukkan semua bukti keberadaannya, Nggi?”

Aku masuk ke dalam kelas. Kuambil tas. Kutunjukkan SMS-SMS dari Pringadi. Pun kertas-kertas yang berisikan dialog kami berdua. Ardi mulai membacanya satu per satu. “Sekarang kamu percaya?”

Hari ini hujan lebih deras dari biasanya. Aku juga tidak menyangka Ardi bisa senekat ini menyelidiki apa-apa yang pernah kuceritakan kepadanya. Murid-murid lain sudah pulang dengan jemputan-jemputan mereka yang beragam. Kami berdua di pojok sekolah. Ardi masih mengamati semua kata-kata itu. Aku mengetuk-ngetukkan sepatu ke lantai. Tiba-tiba di pojok lain, akhirnya, aku melihatmu lagi. Kamu tersenyum. Hatiku berteriak. Segera aku lari menghambur ke arahmu, melewati hujan. Melewati genangan-genangan. Hujan menyamarkan airmataku. Aku memelukmu.
***
Hari itu, Ardi melihatku berlari tiba-tiba. Tasku jatuh dan berhamburan isinya. Ardi tidak pernah mengejarku. Pandangannya teralihkan pada sebuah handphone lain di tasku itu. Ia memungutnya. Ketika kembali memandangiku, ia tahu aku sedang mengejar sesuatu. Tetapi, satu yang tidak aku tahu, Ardi tidak melihat siapa-siapa di sana. Ardi melihatku seperti sedang memeluk seseorang. Tetapi, tidak pernah benar-benar ada orang dalam pandangannya. Ketika ia mulai membuka handphone itu, ia temukan SMS yang sama seperti di handphone sebelumnya. Pun ketika ia membongkar isi tas itu, ia temukan catatan-catatan dengan tulisan tangan yang sama dengan kertas-kertas dari Pringadi. Catatanku sendiri. Tulisanku sendiri.


"Ini adalah cerpen yang diberikan seseorang. kata kata dan alurnya memang sangat sulit untuk dimengerti menurut gue, tapi itu yang menjadi keunikan dari cerpen ini. lagian orang yang ngasih ini ngopy dari internet, tapi cerpen ini membuat gue suka sekali dengan hujan. suara, bentuk, bau, dan semuanya tentang hujan. karena hujan dapat menahan lu supaya lu ga pergi dan jauh jauh dari gue."


ini kelas xii ipa 2. waktu itu lagi jamannya pdkt ama si pemberi cerpen

Kamis, 27 Oktober 2011

SAHABAT

Nadia menarik tirai jendela kamarnya dengan kesal. Lagi – lagi anak cowok yang tinggal di rumah sebelah itu, ketahuan sedang mengamati gerak – geriknya. Bukan sekali ini saja, tapi sudah ratusan kali. Di halaman, di sekolah, di kelas, bahkan saat dia sedang belajar di dalam kamar.
Seperti detektif yang sedang memata – matai penjahat saja. Setiap Nadia tahu dia sedang diawasi, wajah imutnya langsung berubah jadi galak. Tapi anak cowok itu malah tersenyum manis. Huh! Dasar cowok aneh!
“Nadia! Buka pintunya, dong!” teriakan Kak Ratu yang seperti tarzan itu membuyarkan kekesalannya.
“Engga dikunci!” teriak Nadia yang tak kalah nyaring.
Kak Ratu langsung nyelonong masuk ke kamar adik semata wayangnya itu. Kedua tangannya diletakkan di belakang punggung. Mencurigakan!
“Hebat ya kamu, Nad! Baru kelas 2 SMP, sudah punya penggemar,” ucap Kak Ratu sambil menyodorkan sebuah bungkusan. Ketika dibuka, mata Nadia hampir tak percaya. Segala macam kue cokelat ada di bungkusan itu. Juga selembar kertas bertuliskan ‘Mulai sekarang jangan sedih lagi ya, Nad’.
“Mungkin itu dari tetangga baru kita,” kata Kak Ratu. “Dia kan murid baru di kelas kamu. Tapi, kok aku engga pernah liat kalian ngobrol sih?”
Nadia menggeleng cepat.
“Engga mungkin itu dari dia, Kak. Soalnya aku kan selalu pasang tampang galak ke dia. Habis dia selalu mengawasi aku. Memangnya aku makhluk dari planet Mars!”
Kak Ratu tertawa. “Mungkin dia mau berteman sama kamu, Nad. Kalian kan satu sekolah, sekelas, bahkan kamar kalian bersebelahan, cuma terhalang sama pohon. Wajar kan?”
Benar juga kata Kak Ratu. Ah, andai Lia masih ada. Pasti sahabatnya itu akan membantunya menyelidiki si tetangga baru yang aneh. Juga menyelidiki siapa si pengirim kue cokelat ini. Dulu, hanya Lia yang membujuknya dengan cokelat kalau Nadia marah. Tapi sekarang itu tidak mungkin lagi.
Lia meninggal 6 bulan lalu karena leukimia. Waktu itu, mereka tinggal satu kota. Tetapi sejak Lia meninggal, Nadia ikut Ayah yang pindah tugas ke kota lain. Nadia juga jadi takut untuk punya sahabat lagi. Takut kehilangan.
Sekarang entah kenapa, tiba – tiba Nadia ingin punya sahabat lagi. Nadia merasa Tuhan sengaja mengirimkan tetangga barunya itu, untuk menjadi sahabatnya. Menggantikan Lia. Diam – diam Nadia berjanji. Mulai besok ia akan memasang wajah manis bila bertemu dengan anak cowok itu.
Akan tetapi, sudah 4 hari ini Nadia tidak melihat anak cowok itu. Untuk menanyakan kepada sekretaris kelasnya, dia malu. Sepulang sekolah, dia mencoba melihat lagi lewat celah – celah pagar rumah si cowok itu. Tapi masih sepi. Nadia ingin menanyakan tentang si cowok itu kepada Kak Ratu, tetapi rasa malunya melebihi rasa beraninya. Nanti pasti Kak Ratu bilang kalau Nadia kangen sama cowok itu. Tapi memang benar sih, Nadia memang rindu sama dia.
Akhirnya, Nadia memutuskan untuk memanjat ke pohon jambu sebelah kamarnya yang menjembatani kamarnya dengan kamar cowok itu. Tapi usaha sama dengan nol. Tidak ada tanda seorang pun di dalam rumah itu. Jendela ditutup. Tidak ada mobil. Sepertinya mereka sedang pergi. Atau sepertinya ranting pohon ini akan patah. Dan GUBRAK!
Sudah tiga hari Nadia tidak masuk sekolah. Tangan kirinya patah saat naik pohon jambu untuk memata – matai tetangganya itu.
“Nadia! Ada yang cari kamu, nih!” Lagi – lagi suara Kak Ratu yang seperti tarzan itu berkumandang. Lalu masuk ke kamar Nadia tanpa minta izin. Nadia ingin protes, tetapi tidak jadi ketika melihat tamu yang datang.
“Pergi dulu ah! Takut ganggu,” ucap Kak Ratu menggoda. Iiiih, Kak Ratu jahat! Nadia kan jadi malu.
“Gimana tanganmu , Nad? Masih sakit?” tanya tamu itu perhatian. “Maaf ya baru bisa jenguk sekarang. Soalnya selama seminggu ini, aku pergi ke rumah Nenek yang sedang sakit. Sekalian ziarah ke makam Lia. Kamu kangen sama aku, ya?”
“Enak aja! Jangan GR kamu!” seru Nadia sewot. “Eh, kamu tadi sebut – sebut nama Lia? Siapa dia?”
“Sepupu aku. Lia Larasati. Sahabat kamu dulu.”
Mata Nadia terbelalak kaget, tak percaya.”Jadi, kamu sepupunya Lia?”
Tamu itu mengangguk. “Iya, Lia engga pernah cerita soal aku, ya?”
“Pernah. Tapi Lia engga kasih tau nama kamu.”
“Kami emang engga dekat. Tapi beberapa hari sebelum dia meninggal, Lia kirim surat ke aku. Dia minta tolong supaya aku mau jadi sahabat kamu, menggantikan dia. Awalnya aku keberatan. Tapi waktu aku liat kamu yang sering murung, aku jadi bersemangat untuk jadi sahabat kamu.”
“Karena itu kamu mata – matai aku? Kamu juga kan yang ngirim cokelat waktu beberapa hari yang lalu?”
“Iya. Aku tau waktu itu kamu marah karena kuawasi terus. Jadi, aku kirimi kamu cokelat.”
Sekarang Nadia mengerti, ini semua keinginan terakhir Lia.
“Nadia, kamu masih mau kan jadi sahabat aku?” tanya anak cowok yang ternyata sepupunya Lia itu.
“Mau,” jawab Nadia mantap. “tapi kamu harus janji, akan beri aku cokelat setiap kali aku marah.”
“Boleh. Asal kamu marahnya setahun sekali. Oh ya, kita kan belum kenalan. Kenalan dulu, dong! Namaku Dilan.”
“Sudah tau!” seru Nadia pura – pura ngambek. Keduanya lalu tertawa.
“Nadia, mulai sekarang jangan sedih lagi, ya. Janji?” Dilan mengulurkan jari kelingkingnya ke arah Nadia. Nadia membalasnya seraya tersenyum. Senyum paling manis untuk Dilan. Sahabatnya.

TD

“Tiwi?”
                “Emmhh, Dia?” tanyaku ketika kubuka pintu. Dan kulihat seorang pria yang sangat ku rindu suaranya.
                Dia mengangguk. Sungguh! Aku rindu padanya. Kupersilahkan Dia masuk dan duduk. Baru semenit kami memulai pembicaraan, Putra datang bersama gadis kecil.
                “Bundaaaa!” gadis kecil menghampiriku. “Ayo bunda, kita pelgi.”
                Aku lihat Dia. Tampaknya kaget.
                “Hai, saya Putra,” menawarkan sebuah jabat tangan.
                “Saya Dia,” Dia membalas jabat tangan Putra.
                “Eeemhh, Putra suami gua,” ucapku hati – hati. “Ini, Anandia, anak gua dan Putra.”
                “Om, aku lagi ulang taun loh om. Om ga mau ngucapin celamat ke aku?” tanya Anandia
                “Oh hehe. Iya selamat ulang tahun ya cantik,” ucapnya sambil membelai rambut anakku. “Oh iya, Om punya hadiah untuk kamu. Nih!” Dia memberikan Anandia sebuah kotak.
                “Ya udah, Wi, kalian mau pergi ya? Aduh gua jadi ga enak. Gua pulang dulu ya kalau gitu,” Dia pergi.
                “Aku panasin mobil dulu ya,” Putra pergi.
                “Ayaaah! Aku ikut!” Anandia pergi.
***
“Rei! Dia udah ada di depan katanya!”
“Yaudah sekali aja wi.”
“Tapi-”
“Please! Sesekali nyenengin temen gua yang satu ini lah wi.”
“oke, sekali ya?”
“Iya sekali, thank you ya wi.”
“Iya,” percakapan singkat lewat telepon itu terputus.
                Namaku Tiwi, mahasiswi teknik di salah satu perguruan tinggi negeri yang sedang dilanda kebingungan. Seorang temanku yang bernama Reihan memintaku agar aku mau untuk dijemput sahabatnya. Untuk yang pertama dan terakhir. Katanya. Oke, aku setuju. Untuk yang pertama dan yang terakhir.
                Motornya pun membawa kami melesat pergi menuju tempat tujuan. Rumahku. Beribu – ribu pertanyaan dilontarkannya kepadaku. Aku hanya menjawab seperlunya. Cerewet! Batinku.
                Tepat sebulan setelah peristiwa itu. Dia mengajakku untuk makan malam. Entah kenapa aku tak bisa menolaknya.
                “Udah luluh nih wi?” tanya Reihan.
                Aku hanya tersenyum.
                “Asik nih hahaha. Hebat emang sahabat gua haha.”
                Terputar kembali dialog antara aku dan Reihan ketika Dia ada di depanku saat ini. Kami benar – benar makan malam. Tapi kami lebih banyak diam. Dia tidak secerewet seperti biasanya.
                Trrrtt Trrrtt. Handphoneku bergertar.
                Dia mau nembak wi hari ini. Hihihihi.’
                Sms dari Reihan itu membuatku senyum – senyum sendiri. Aku lihat Dia dan Dia sedang melihatku.
                “Apa?” tanyaku.
                “Emmhh, ga ada apa – apa,” jawabnya malu sambil melanjutkan makan.
                Selesai makan Dia mengajakku untuk pulang. WHAT? Pulang?
                “Ayo! Naik!” Dia sudah menyalakan motornya. Sambil memasang wajah cemberut aku menuruti perintahnya.
                Dasar Reihan sotau! Siapa bilang Dia mau nembak! Malah ngajak pulang kok!
                Sepanjang jalan suasana antara Dia dan aku seperti di tempat makan tadi. Diam.
                “Wi,” ucapnya
“Ya?” ayo ngomong, ngomong bodoh
                “Besok lu ada jam kuliah?
                “Hah? Kok jam kuliah?!”
                “Emang kenapa?”
                “Emh, ga apa – apa. Besok ya? Kayaknya ada. Kenapa?”
                “Nanya doang.”
                Diam lagi. Lagi dan lagi.
                “Udah nyampe, Wi. Turun.”
                “Oh ya, ga kerasa. Hehehe.” Aku diam, tidak masuk rumah, menunggu Dia mengucapkan sesuatu.
                “Yaudah deh, gua pulang dulu ya.”
                “Hah? Oh, ya. Makasih ya udah nganter gua pulang.”  Dia hanya membalasnya dengan senyuman.
                “Wi.”
                “Ya?” tanyaku.
                “Makasih ya udah mau nemenin gua makan malem.”
                “Oh ya haha. Gua harusnya yang bilang makasih, lu udah traktir gua haha.”
                “Oh iya hehe.”
                “Ada lagi yang mau lu omongin?” tanyaku penuh harap.
                “Hah? Emmhh,” wajahnya tampak berpikir.
                Ayoooooooo!
                “Oh iya!”
                “APA?”
                “Sana masuk rumah! Udah malem. Hehehe.”
                “CUMA ITU?” tanyaku sedikit membentak.
                Dia kaget, “I- iya. Emang mau apa lagi?”
                “Hah? Eh sorry ya gua jadi ngebentak hehe. Gua udah ngantuk soalnya. Hooaaam,” jawabku sekenanya.
                “Keliatan dari muka lu. Hehehe. Ya udah gua pulang dulu ya.”
                Aku mengangguk.
                “Wi, lu mau ga jadi pacar gua?”
                “Hah?” aku sudah tak tahu lagi bagaimana wajahku saat itu. Kaget? Malu? Senang? Haha dasar anak muda.
                Dengan mantapnya aku mengangguk.
                “Makasih Wi,” dia memelukku.
                Putra. Ternyata Putra yang berada di depanku. Putra yang memelukku. Putra pulalah yang bertanya. Bukan Dia.
                “Wi,” Reihan membuyarkan lamunanku.
                Langit mulai menitikkan titik titik air kehidupan. Reihan, sahabatku itu duduk disampingku. Keadaan itu memaksaku menjadi seperti langit. Menitikkan titik titik air kehidupan juga. Sambil membaca surat yang dititipkan Dia lewat Reihan.
                Untuk Tiwi
                Hai Wi, sebelumnya gua mau minta maaf gua pergi tanpa pamit dulu ke lu. Gua pergi ke Perancis, gua dapet beasiswa Wi. Gua ga pamit ke lu karena gua ga mau bilang selamat tinggal ke lu. Gua malu untuk nangis di hadapan lu. Mungkin ketika lu baca surat ini, gua udah sampe di Perancis.
Bismillah.
Aku mengenalmu lewat jiwa, bukan lewat mata!
Aku menjadikanmu seseorang yang terdekat lewat hati, bukan dengan kata!
Ku tak tau seperti apa aku dalam pandanganmu,
Selayak apa aku dalam ukhuwahmu.
Tapi yang ku tau,
Meski dengan keterbatasanku, berbalut kekuranganku.
Ku menulis namamu di hatiku.
Sejak awal dan tak akan pernah terhapus
Sebagai yang tersayang di hatiku.
Kemarin, hari ini, ataupun nanti.
Insya Allah.
Mungkin Cuma puisi ini yang bisa gua kasih untuk nemenin lu selama gua di Perancis. Tapi tenang, Wi. Gua janji untuk bawa lu ke sini. Kita jalan – jalan mengelilingi kota Perancis. Kota yang lu anggap romantis. Gua janji, Wi. Tunggu gua  di Indonesia ya.
Gua sayang lu.
Dia
                “Udah jangan nangis,”
                Aku hanya bisa menangis dalam dekapan Reihan. Tak tau lagi harus berbuat apa.
                “Tiwi, kita pulang. Udah malem,” Putra, pacarku memanggilku sambil membawa payung. Aku tahu bagaimana sifat Putra. Keras. Katanya dia keras kalau sesuatu terjadi padaku, dengan kata lain dia sangat menyayangiku. Mungkin. Aku pun tahu betul bagaimana tipe cewek Putra. Cantik. Berambut panjang. Lembut. Modis. Tapi aku? Keadaanku sangat berbalik dengan tipe cewek yang di idamkan Putra. Sempat aku berpikir, mungkin aku hanya dijadikannya tempat pelarian. Karena setahuku dia baru saja dikhianati pacarnya. Tapi entahlah, ada sesuatu yang beda yang bisa ku lihat dimatanya.
                “Udah jangan nangis, hapus dulu tuh air matanya.” Aku hapus airmataku dan pergi menghampiri Putra.
****
                Memori yang selalu kuingat itu terbayang lagi di benakku. Kulihat kotak yang diberikan Dia kepada anakku. Dua tiket pesawat ke Perancis dan sebuah kalung bertuliskan T&D. Tiwi & Dia. Aku suka itu.