~my word~

What can I do to get you there?

Kamis, 27 Oktober 2011

TD

“Tiwi?”
                “Emmhh, Dia?” tanyaku ketika kubuka pintu. Dan kulihat seorang pria yang sangat ku rindu suaranya.
                Dia mengangguk. Sungguh! Aku rindu padanya. Kupersilahkan Dia masuk dan duduk. Baru semenit kami memulai pembicaraan, Putra datang bersama gadis kecil.
                “Bundaaaa!” gadis kecil menghampiriku. “Ayo bunda, kita pelgi.”
                Aku lihat Dia. Tampaknya kaget.
                “Hai, saya Putra,” menawarkan sebuah jabat tangan.
                “Saya Dia,” Dia membalas jabat tangan Putra.
                “Eeemhh, Putra suami gua,” ucapku hati – hati. “Ini, Anandia, anak gua dan Putra.”
                “Om, aku lagi ulang taun loh om. Om ga mau ngucapin celamat ke aku?” tanya Anandia
                “Oh hehe. Iya selamat ulang tahun ya cantik,” ucapnya sambil membelai rambut anakku. “Oh iya, Om punya hadiah untuk kamu. Nih!” Dia memberikan Anandia sebuah kotak.
                “Ya udah, Wi, kalian mau pergi ya? Aduh gua jadi ga enak. Gua pulang dulu ya kalau gitu,” Dia pergi.
                “Aku panasin mobil dulu ya,” Putra pergi.
                “Ayaaah! Aku ikut!” Anandia pergi.
***
“Rei! Dia udah ada di depan katanya!”
“Yaudah sekali aja wi.”
“Tapi-”
“Please! Sesekali nyenengin temen gua yang satu ini lah wi.”
“oke, sekali ya?”
“Iya sekali, thank you ya wi.”
“Iya,” percakapan singkat lewat telepon itu terputus.
                Namaku Tiwi, mahasiswi teknik di salah satu perguruan tinggi negeri yang sedang dilanda kebingungan. Seorang temanku yang bernama Reihan memintaku agar aku mau untuk dijemput sahabatnya. Untuk yang pertama dan terakhir. Katanya. Oke, aku setuju. Untuk yang pertama dan yang terakhir.
                Motornya pun membawa kami melesat pergi menuju tempat tujuan. Rumahku. Beribu – ribu pertanyaan dilontarkannya kepadaku. Aku hanya menjawab seperlunya. Cerewet! Batinku.
                Tepat sebulan setelah peristiwa itu. Dia mengajakku untuk makan malam. Entah kenapa aku tak bisa menolaknya.
                “Udah luluh nih wi?” tanya Reihan.
                Aku hanya tersenyum.
                “Asik nih hahaha. Hebat emang sahabat gua haha.”
                Terputar kembali dialog antara aku dan Reihan ketika Dia ada di depanku saat ini. Kami benar – benar makan malam. Tapi kami lebih banyak diam. Dia tidak secerewet seperti biasanya.
                Trrrtt Trrrtt. Handphoneku bergertar.
                Dia mau nembak wi hari ini. Hihihihi.’
                Sms dari Reihan itu membuatku senyum – senyum sendiri. Aku lihat Dia dan Dia sedang melihatku.
                “Apa?” tanyaku.
                “Emmhh, ga ada apa – apa,” jawabnya malu sambil melanjutkan makan.
                Selesai makan Dia mengajakku untuk pulang. WHAT? Pulang?
                “Ayo! Naik!” Dia sudah menyalakan motornya. Sambil memasang wajah cemberut aku menuruti perintahnya.
                Dasar Reihan sotau! Siapa bilang Dia mau nembak! Malah ngajak pulang kok!
                Sepanjang jalan suasana antara Dia dan aku seperti di tempat makan tadi. Diam.
                “Wi,” ucapnya
“Ya?” ayo ngomong, ngomong bodoh
                “Besok lu ada jam kuliah?
                “Hah? Kok jam kuliah?!”
                “Emang kenapa?”
                “Emh, ga apa – apa. Besok ya? Kayaknya ada. Kenapa?”
                “Nanya doang.”
                Diam lagi. Lagi dan lagi.
                “Udah nyampe, Wi. Turun.”
                “Oh ya, ga kerasa. Hehehe.” Aku diam, tidak masuk rumah, menunggu Dia mengucapkan sesuatu.
                “Yaudah deh, gua pulang dulu ya.”
                “Hah? Oh, ya. Makasih ya udah nganter gua pulang.”  Dia hanya membalasnya dengan senyuman.
                “Wi.”
                “Ya?” tanyaku.
                “Makasih ya udah mau nemenin gua makan malem.”
                “Oh ya haha. Gua harusnya yang bilang makasih, lu udah traktir gua haha.”
                “Oh iya hehe.”
                “Ada lagi yang mau lu omongin?” tanyaku penuh harap.
                “Hah? Emmhh,” wajahnya tampak berpikir.
                Ayoooooooo!
                “Oh iya!”
                “APA?”
                “Sana masuk rumah! Udah malem. Hehehe.”
                “CUMA ITU?” tanyaku sedikit membentak.
                Dia kaget, “I- iya. Emang mau apa lagi?”
                “Hah? Eh sorry ya gua jadi ngebentak hehe. Gua udah ngantuk soalnya. Hooaaam,” jawabku sekenanya.
                “Keliatan dari muka lu. Hehehe. Ya udah gua pulang dulu ya.”
                Aku mengangguk.
                “Wi, lu mau ga jadi pacar gua?”
                “Hah?” aku sudah tak tahu lagi bagaimana wajahku saat itu. Kaget? Malu? Senang? Haha dasar anak muda.
                Dengan mantapnya aku mengangguk.
                “Makasih Wi,” dia memelukku.
                Putra. Ternyata Putra yang berada di depanku. Putra yang memelukku. Putra pulalah yang bertanya. Bukan Dia.
                “Wi,” Reihan membuyarkan lamunanku.
                Langit mulai menitikkan titik titik air kehidupan. Reihan, sahabatku itu duduk disampingku. Keadaan itu memaksaku menjadi seperti langit. Menitikkan titik titik air kehidupan juga. Sambil membaca surat yang dititipkan Dia lewat Reihan.
                Untuk Tiwi
                Hai Wi, sebelumnya gua mau minta maaf gua pergi tanpa pamit dulu ke lu. Gua pergi ke Perancis, gua dapet beasiswa Wi. Gua ga pamit ke lu karena gua ga mau bilang selamat tinggal ke lu. Gua malu untuk nangis di hadapan lu. Mungkin ketika lu baca surat ini, gua udah sampe di Perancis.
Bismillah.
Aku mengenalmu lewat jiwa, bukan lewat mata!
Aku menjadikanmu seseorang yang terdekat lewat hati, bukan dengan kata!
Ku tak tau seperti apa aku dalam pandanganmu,
Selayak apa aku dalam ukhuwahmu.
Tapi yang ku tau,
Meski dengan keterbatasanku, berbalut kekuranganku.
Ku menulis namamu di hatiku.
Sejak awal dan tak akan pernah terhapus
Sebagai yang tersayang di hatiku.
Kemarin, hari ini, ataupun nanti.
Insya Allah.
Mungkin Cuma puisi ini yang bisa gua kasih untuk nemenin lu selama gua di Perancis. Tapi tenang, Wi. Gua janji untuk bawa lu ke sini. Kita jalan – jalan mengelilingi kota Perancis. Kota yang lu anggap romantis. Gua janji, Wi. Tunggu gua  di Indonesia ya.
Gua sayang lu.
Dia
                “Udah jangan nangis,”
                Aku hanya bisa menangis dalam dekapan Reihan. Tak tau lagi harus berbuat apa.
                “Tiwi, kita pulang. Udah malem,” Putra, pacarku memanggilku sambil membawa payung. Aku tahu bagaimana sifat Putra. Keras. Katanya dia keras kalau sesuatu terjadi padaku, dengan kata lain dia sangat menyayangiku. Mungkin. Aku pun tahu betul bagaimana tipe cewek Putra. Cantik. Berambut panjang. Lembut. Modis. Tapi aku? Keadaanku sangat berbalik dengan tipe cewek yang di idamkan Putra. Sempat aku berpikir, mungkin aku hanya dijadikannya tempat pelarian. Karena setahuku dia baru saja dikhianati pacarnya. Tapi entahlah, ada sesuatu yang beda yang bisa ku lihat dimatanya.
                “Udah jangan nangis, hapus dulu tuh air matanya.” Aku hapus airmataku dan pergi menghampiri Putra.
****
                Memori yang selalu kuingat itu terbayang lagi di benakku. Kulihat kotak yang diberikan Dia kepada anakku. Dua tiket pesawat ke Perancis dan sebuah kalung bertuliskan T&D. Tiwi & Dia. Aku suka itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar