~my word~

What can I do to get you there?

Kamis, 27 Oktober 2011

SAHABAT

Nadia menarik tirai jendela kamarnya dengan kesal. Lagi – lagi anak cowok yang tinggal di rumah sebelah itu, ketahuan sedang mengamati gerak – geriknya. Bukan sekali ini saja, tapi sudah ratusan kali. Di halaman, di sekolah, di kelas, bahkan saat dia sedang belajar di dalam kamar.
Seperti detektif yang sedang memata – matai penjahat saja. Setiap Nadia tahu dia sedang diawasi, wajah imutnya langsung berubah jadi galak. Tapi anak cowok itu malah tersenyum manis. Huh! Dasar cowok aneh!
“Nadia! Buka pintunya, dong!” teriakan Kak Ratu yang seperti tarzan itu membuyarkan kekesalannya.
“Engga dikunci!” teriak Nadia yang tak kalah nyaring.
Kak Ratu langsung nyelonong masuk ke kamar adik semata wayangnya itu. Kedua tangannya diletakkan di belakang punggung. Mencurigakan!
“Hebat ya kamu, Nad! Baru kelas 2 SMP, sudah punya penggemar,” ucap Kak Ratu sambil menyodorkan sebuah bungkusan. Ketika dibuka, mata Nadia hampir tak percaya. Segala macam kue cokelat ada di bungkusan itu. Juga selembar kertas bertuliskan ‘Mulai sekarang jangan sedih lagi ya, Nad’.
“Mungkin itu dari tetangga baru kita,” kata Kak Ratu. “Dia kan murid baru di kelas kamu. Tapi, kok aku engga pernah liat kalian ngobrol sih?”
Nadia menggeleng cepat.
“Engga mungkin itu dari dia, Kak. Soalnya aku kan selalu pasang tampang galak ke dia. Habis dia selalu mengawasi aku. Memangnya aku makhluk dari planet Mars!”
Kak Ratu tertawa. “Mungkin dia mau berteman sama kamu, Nad. Kalian kan satu sekolah, sekelas, bahkan kamar kalian bersebelahan, cuma terhalang sama pohon. Wajar kan?”
Benar juga kata Kak Ratu. Ah, andai Lia masih ada. Pasti sahabatnya itu akan membantunya menyelidiki si tetangga baru yang aneh. Juga menyelidiki siapa si pengirim kue cokelat ini. Dulu, hanya Lia yang membujuknya dengan cokelat kalau Nadia marah. Tapi sekarang itu tidak mungkin lagi.
Lia meninggal 6 bulan lalu karena leukimia. Waktu itu, mereka tinggal satu kota. Tetapi sejak Lia meninggal, Nadia ikut Ayah yang pindah tugas ke kota lain. Nadia juga jadi takut untuk punya sahabat lagi. Takut kehilangan.
Sekarang entah kenapa, tiba – tiba Nadia ingin punya sahabat lagi. Nadia merasa Tuhan sengaja mengirimkan tetangga barunya itu, untuk menjadi sahabatnya. Menggantikan Lia. Diam – diam Nadia berjanji. Mulai besok ia akan memasang wajah manis bila bertemu dengan anak cowok itu.
Akan tetapi, sudah 4 hari ini Nadia tidak melihat anak cowok itu. Untuk menanyakan kepada sekretaris kelasnya, dia malu. Sepulang sekolah, dia mencoba melihat lagi lewat celah – celah pagar rumah si cowok itu. Tapi masih sepi. Nadia ingin menanyakan tentang si cowok itu kepada Kak Ratu, tetapi rasa malunya melebihi rasa beraninya. Nanti pasti Kak Ratu bilang kalau Nadia kangen sama cowok itu. Tapi memang benar sih, Nadia memang rindu sama dia.
Akhirnya, Nadia memutuskan untuk memanjat ke pohon jambu sebelah kamarnya yang menjembatani kamarnya dengan kamar cowok itu. Tapi usaha sama dengan nol. Tidak ada tanda seorang pun di dalam rumah itu. Jendela ditutup. Tidak ada mobil. Sepertinya mereka sedang pergi. Atau sepertinya ranting pohon ini akan patah. Dan GUBRAK!
Sudah tiga hari Nadia tidak masuk sekolah. Tangan kirinya patah saat naik pohon jambu untuk memata – matai tetangganya itu.
“Nadia! Ada yang cari kamu, nih!” Lagi – lagi suara Kak Ratu yang seperti tarzan itu berkumandang. Lalu masuk ke kamar Nadia tanpa minta izin. Nadia ingin protes, tetapi tidak jadi ketika melihat tamu yang datang.
“Pergi dulu ah! Takut ganggu,” ucap Kak Ratu menggoda. Iiiih, Kak Ratu jahat! Nadia kan jadi malu.
“Gimana tanganmu , Nad? Masih sakit?” tanya tamu itu perhatian. “Maaf ya baru bisa jenguk sekarang. Soalnya selama seminggu ini, aku pergi ke rumah Nenek yang sedang sakit. Sekalian ziarah ke makam Lia. Kamu kangen sama aku, ya?”
“Enak aja! Jangan GR kamu!” seru Nadia sewot. “Eh, kamu tadi sebut – sebut nama Lia? Siapa dia?”
“Sepupu aku. Lia Larasati. Sahabat kamu dulu.”
Mata Nadia terbelalak kaget, tak percaya.”Jadi, kamu sepupunya Lia?”
Tamu itu mengangguk. “Iya, Lia engga pernah cerita soal aku, ya?”
“Pernah. Tapi Lia engga kasih tau nama kamu.”
“Kami emang engga dekat. Tapi beberapa hari sebelum dia meninggal, Lia kirim surat ke aku. Dia minta tolong supaya aku mau jadi sahabat kamu, menggantikan dia. Awalnya aku keberatan. Tapi waktu aku liat kamu yang sering murung, aku jadi bersemangat untuk jadi sahabat kamu.”
“Karena itu kamu mata – matai aku? Kamu juga kan yang ngirim cokelat waktu beberapa hari yang lalu?”
“Iya. Aku tau waktu itu kamu marah karena kuawasi terus. Jadi, aku kirimi kamu cokelat.”
Sekarang Nadia mengerti, ini semua keinginan terakhir Lia.
“Nadia, kamu masih mau kan jadi sahabat aku?” tanya anak cowok yang ternyata sepupunya Lia itu.
“Mau,” jawab Nadia mantap. “tapi kamu harus janji, akan beri aku cokelat setiap kali aku marah.”
“Boleh. Asal kamu marahnya setahun sekali. Oh ya, kita kan belum kenalan. Kenalan dulu, dong! Namaku Dilan.”
“Sudah tau!” seru Nadia pura – pura ngambek. Keduanya lalu tertawa.
“Nadia, mulai sekarang jangan sedih lagi, ya. Janji?” Dilan mengulurkan jari kelingkingnya ke arah Nadia. Nadia membalasnya seraya tersenyum. Senyum paling manis untuk Dilan. Sahabatnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar